Misteri Pulau Emas yang Hilang: Jejak Kekayaan Kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi




Misteri Pulau Emas yang Hilang: Jejak Kekayaan Kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi

Bagi masyarakat Sumatera Selatan, Sungai Musi bukan sekadar aliran air, melainkan saksi bisu kejayaan masa lalu. Namun, beberapa tahun terakhir, dunia internasional dikejutkan oleh temuan-temuan dari dasar sungai ini: cincin emas permata, patung Buddha bernilai miliaran rupiah, hingga manik-manik kuno.

Muncul sebuah pertanyaan besar: Apakah ini bukti keberadaan "Pulau Emas" yang telah lama hilang?


Sriwijaya: Sang Penguasa Lautan yang Berguling Emas

Pada abad ke-7 hingga ke-13, Kerajaan Sriwijaya adalah pusat perdagangan dan Buddha terbesar di Asia Tenggara. Berdasarkan catatan penjelajah kuno, raja-raja Sriwijaya digambarkan memiliki kekayaan yang tak terhingga.

Ada sebuah legenda tentang "Pulau Emas" (Suvarnadvipa) di mana emas dihasilkan dari tanahnya. Para pelaut asing menceritakan tradisi raja yang melemparkan lempengan emas ke dalam air setiap pagi sebagai persembahan kepada sungai. Inilah yang diyakini menjadi alasan mengapa dasar Sungai Musi kini menjadi "tambang" harta karun bagi para penyelam lokal.


Mengapa "Pulau Emas" Itu Menghilang?

Banyak arkeolog percaya bahwa Pulau Emas bukanlah sebuah pulau yang tenggelam seperti Atlantis, melainkan peradaban yang "tertelan" oleh alam.

  1. Arsitektur Kayu: Berbeda dengan Majapahit di Jawa yang menggunakan batu bata, bangunan Sriwijaya didominasi kayu karena letaknya di wilayah rawa. Saat kerajaan runtuh, bangunan-bangunan ini melapuk dan terkubur lumpur sungai.

  2. Pergeseran Aliran Sungai: Sungai Musi telah berpindah jalur selama berabad-abad. Pemukiman yang dulunya berada di tepian kini mungkin telah berada di bawah dasar sungai yang dalam.

  3. Bencana Alam & Kebakaran: Serangan dari kerajaan asing (seperti Chola dari India) dan kebakaran besar di pemukiman terapung mempercepat hilangnya jejak fisik kerajaan ini.


Perburuan Harta Karun di Sungai Musi

Dalam satu dekade terakhir, penyelam lokal di Palembang telah menemukan ribuan artefak. Mulai dari koin-koin kuno dari berbagai negara, cermin perunggu, hingga lonceng kuil.

Namun, fenomena ini bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, temuan ini membuktikan keagungan Sriwijaya. Di sisi lain, banyak harta karun ini dijual ke kolektor internasional sebelum sempat diteliti oleh para ahli, membuat kepingan sejarah kita hilang selamanya.


Pelajaran dari Masa Lalu

Misteri Pulau Emas di Sungai Musi mengingatkan kita bahwa kekayaan bukan hanya soal emas dan permata. Kekayaan yang lebih besar adalah informasi sejarah yang terkandung di dalamnya. Sriwijaya adalah bukti bahwa nenek moyang kita adalah penguasa maritim yang disegani dunia.


Kesimpulan: Kota yang Kembali Pulang

Sungai Musi perlahan-lahan mulai "mengembalikan" apa yang dulu ia simpan. Meski Pulau Emas mungkin tidak akan pernah muncul kembali ke permukaan secara utuh, artefak yang ditemukan adalah bukti nyata bahwa kejayaan itu nyata, bukan sekadar dongeng.


Bagaimana menurut Anda? Apakah pemerintah harus lebih ketat menjaga harta karun di Sungai Musi, atau membiarkan warga mencarinya demi kelangsungan hidup? Sampaikan pendapat Anda di kolom komentar!



Post a Comment

Please comment in here!

Previous Post Next Post

Ad 1

Ad 2