Bukan Hutan Amazon, Ternyata Inilah Penghasil Oksigen Terbesar di Bumi




Bukan Hutan Amazon, Ternyata Inilah Penghasil Oksigen Terbesar di Bumi

Selama bertahun-tahun, kita sering mendengar julukan bahwa Hutan Amazon adalah "paru-paru dunia". Kita diajarkan di sekolah bahwa hutan hujan yang luas tersebut adalah sumber utama oksigen yang kita hirup setiap hari.

Namun, tahukah Anda bahwa fakta sains berkata lain? Meskipun Amazon sangat krusial bagi ekosistem bumi, penyumbang oksigen terbesar di planet kita ternyata bukan berasal dari daratan, melainkan dari samudra.


Siapa Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Ini?

Perkenalkan, Fitoplankton.

Mereka adalah organisme mikroskopis mirip tanaman yang hidup melayang di permukaan samudra. Meski ukurannya sangat kecil dan tidak terlihat oleh mata telanjang, peran mereka jauh lebih besar daripada pohon raksasa mana pun di hutan.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa sekitar 50% hingga 80% oksigen di Bumi dihasilkan oleh fotosintesis laut. Sebagian besar berasal dari fitoplankton, ganggang laut (seaweed), dan beberapa bakteri yang bisa berfotosintesis.


Mengapa Hutan Amazon Bukan yang Terutama?

Mari kita luruskan faktanya. Hutan Amazon memang menghasilkan oksigen dalam jumlah masif melalui fotosintesis. Namun, ada satu hal yang jarang dibahas: Amazon juga mengonsumsi hampir seluruh oksigen yang dihasilkannya.

Bagaimana bisa?

  1. Respirasi Tanaman: Pohon tidak hanya berfotosintesis, mereka juga bernapas (respirasi) dan membutuhkan oksigen.

  2. Dekomposisi: Mikroorganisme di lantai hutan yang membusukkan daun dan kayu mati menghabiskan oksigen dalam jumlah besar.

Jadi, secara teknis, "produksi bersih" oksigen dari Amazon untuk atmosfer hampir mendekati nol. Amazon lebih berperan sebagai penyerap karbon (carbon sink) raksasa yang menstabilkan iklim dunia, bukan sebagai pemasok utama oksigen pernapasan kita.


Bagaimana Fitoplankton Menyuplai Oksigen Kita?

Sama seperti tumbuhan di darat, fitoplankton mengandung klorofill. Mereka menggunakan sinar matahari dan karbon dioksida untuk menghasilkan energi, dan melepaskan oksigen sebagai produk sampingannya.

Salah satu spesies yang paling mengesankan adalah bakteri laut bernama Prochlorococcus. Bakteri ini sangat kecil sehingga jutaan darinya bisa muat dalam satu tetes air laut, namun mereka sendiri bertanggung jawab menghasilkan sekitar 20% oksigen di seluruh biosfer kita. Itu lebih banyak daripada seluruh hutan hujan di daratan digabungkan!


Ancaman di Balik Lautan

Mengetahui bahwa napas kita bergantung pada laut, ada satu kenyataan pahit yang harus kita hadapi: Pemanasan Global.

Ketika suhu air laut meningkat, populasi fitoplankton bisa terancam. Laut yang lebih hangat cenderung memiliki lebih sedikit nutrisi yang naik ke permukaan, yang berarti lebih sedikit makanan untuk fitoplankton. Jika "paru-paru" biru ini terganggu, maka pasokan oksigen global juga dalam bahaya.


Kesimpulan: Menghargai Sang Biru

Mulai sekarang, saat Anda mengambil napas dalam-dalam, jangan hanya berterima kasih pada pohon-pohon hijau di sekitar Anda. Berterima kasihlah juga pada samudra luas dan makhluk-makhluk mikroskopis yang bekerja dalam diam di sana.

Melindungi laut bukan hanya soal menyelamatkan ikan atau terumbu karang, tapi soal memastikan setiap makhluk hidup di Bumi bisa terus bernapas.


Apakah fakta ini mengubah cara pandang Anda terhadap laut? Sampaikan pendapat Anda di kolom komentar di bawah!



Post a Comment

Please comment in here!

Previous Post Next Post

Ad 1

Ad 2